McCain Tunjukkan Tanda-tanda Menyerah


Jakarta – Kandidat Presiden AS dari Partai Republik John McCain mengejutkan banyak pihak ketika dalam sebuah wawancara memunculkan wacana bahwa dirinya siap menelan kekalahan. McCain, yang menurut sejumlah survei dan jajak pendapat tertinggal dari rivalnya Barack Obama, mengatakan bahwa ia “tidak akan merasa bersalah pada dirinya sendiri” bila nantinya kalah.Ketika diwawancara Fox News Sunday apakah dirinya siap kalah, McCain menjawab, “Oh iya. Meski saya juga tidak akan berdiam diri.”Lebih lanjut, McCain menambahkan, “Tapi lihatlah. Hidup saya sudah cukup menyenangkan kok. (Jika kalah) saya harus pulang ke Arizona dan akan terus di Senat mewakilinya, bersama sebuah keluarga yang hebat.”"Saya adalah orang paling beruntung yang pernah Anda wawancarai… Tidak perlu merasa bersalah pada John McCain. John McCain juga akan berkonsentrasi agar tidak menyalahkan dirinya sendiri,” imbuhnya seperti yang dilansir news.com.au, Senin (20/10/2008).Menurut jajak pendapat terbaru yang diselenggarakan Realclearpolitics, Obama unggul atas McCain dengan keunggulan 48,9 persen berbanding 43,9 persen.Di tengah upaya masing-masing kandidat untuk meraih dukungan, kubu McCain justru mengalami pukulan telak menyusul dukungan mantan Menlu AS Colin Powell terhadap Obama. Dukungan Powell terhadap Obama dianggap sebagai pulukan telak karena Powell adalah Menlu era George W. Bush, yang kerap diasosiasikan dengan McCain.Meski demikian, McCain mencoba menghibur dirinya dengan mengatakan ia masih didukung mantan menlu lain seperti Henry Kissinger dan James Baker.”Saya hanya ingin terus bertahan di kampanye ini. Kebanyakan orang Amerika ingin melihat di tengah situasi sulit ini sesorang yang memiliki rencana aksi untuk mengembalikan uang kita, dan membantu keluaarga bekerja, laki-laki dan perempuan.” jelas McCain.”Saya cukup puas dengan posisi (kami) sekarang. Dan saya senang menjadi yang tak diunggulkan (underdog),” tambah McCain. Senator Arizona berusia 72 tahun itu juga dengan tulus mengakui kesalahan-kesalahan yang dibuatnya selama kampanye. “Anda tahu, setiap kali saya mencoba bangkit, saya malah mengacaukan segalanya,” pungkasnya.(alf/nrl)

Ilmuwan AS: Obama – McCain, Sama Baiknya


Obama vs McCain

WASHINGTON – Setelah sebelumnya NASA dengan terang-terangan mendukung kandidat Barrack Obama, sebagai Presiden Amerika Serikat. Maka lain halnya dengan para ilmuwan di bidang sains. Mereka dengan tegas belum memutuskan siapa yang akan mereka dukung, karena bagi para ilmuwan tersebut, kedua kandidat, baik John McCain maupun Barrack Obama, sama baiknya.

Para Ilmuwan di negeri Paman Sam, selama delapan tahun belakangan, di bawah pemerintahan Presiden George Bush, sempat mengalami frustasi dalam menghadapi administrasi pemerintahan. Bagi mereka, Bush telah membatasi penelitian, penolakan, dan tidak ada dukungan yang nyata dari pemerintah mengenai isu Global Warming, yang selama ini benar-benar mereka perjuangkan.

Mereka pun memiliki harapan lebih kepada kedua kandidat yang tengah bertarung menuju Gedung Putih itu. Bagi mereka, siapapun presidennya, dia harus mau peduli akan kasus Global Warming, serta mempermudah jalan mereka dalam melakukan sebuah riset, yang selama ini sulit didapat pada era presiden yang doyan perang tersebut.

Obama dan McCain sendiri dalam setiap debat dan kampanye, telah berjanji akan memberi perhatian lebih pada bidang sains, dengan tidak melakukan pelarangan, melengkapi kebutuhan ilmuwan di pemerintahan. Selain itu, mereka mengumbar janji akan memberi tambahan uang bagi setiap penelitian di bidang sains.

Sayangnya banyak ilmuwan yang meragukan hal tersebut karena Amerika sendiri sedang terpuruk akibat krisis ekonomi yang mereka alami. Walaupun begitu, para ilmuwan itu tetap senang mendengar perhatian yang diberikan oleh kedua kandidat tersebut.

Barrack Obama mungkin bisa selangkah lebih maju dibandingkan rivalnya, Senator asal Illinois ini berhasil memuluskan langkah NASA untuk membeli sebuah pesawat ulang alik asal Rusia. Selain itu, Obama mengeluarkan USD3 juta untuk membeli sebuah proyektor besar di Planetarium Chicago. Untuk keputusan yang satu ini, McCain sempat mempertanyakan pembelian tersebut dan menganggapnya sebagai hal untuk menghamburkan uang.

Kandidat yang pernah tinggal di Menteng ini juga memaparkan akan memberikan dana untuk investasi pengembangan penelitian, setidaknya USD15 juta selama kurun waktu 10 tahun. Ini menjadi satu poin plus bagi Obama.

“Sampai saat ini kami melihat kedua kandidat tersebut masih sama-sama bagus, kita akan lihat siapa yang lebih peduli pada isu energi. Pada keadaan seperti ini, apa kita hanya memberikan sedikit perhatian saja?” tutur Henry Lambright, Profesor asal Universitas Syracuse, seperti yang diberitakan Associated Press, Kamis (16/10/2008). (srn)

Ini Dia Game yang Dipakai Obama untuk Kampanye


Obama di game Burnout Paradise (gamepolitics)

WashingtonBanyak cara dilakukan untuk menarik simpati dan suara dalam pemilihan presiden di AS. Seperti yang dilakukan Barack Obama, yang juga berkampanye lewat video game.

Kepastian itu didapat setelah publisher game Electronic Arts (EA) angkat bicara terkait ‘keanehan’ yang terjadi di sejumlah game yang dimainkan para gamer. Kala itu, ada seorang gamer yang melaporkan bahwa ia melihat billboard di dalam game Burnout Paradise yang dimainkannya yang memajang gambar Obama.

Juru bicara EA Holly Rockwood memastikan hal itu bukanlah suatu kebetulan, namun memang disengaja sebagai bentuk kampanye Obama. Kampanye capres dari partai Demokrat ini bisa dilihat para gamer mulai tanggal 6 Oktober sampai 3 November mendatang.

Seperti dikutip detikINET dari AFP, Kamis (16/10/2008), game-game yang disisipkan iklan ini ditujukan untuk Xbox 360. Antara lain Burnout Paradise, Madden 09, Nascar 09, NHL 09 serta Skate.

Meski demikian, imbuh Rockwood, penyebaran game ‘khusus’ ini tidak merambah seluruh dunia, karena hanya akan beredar di 10 negara bagian AS.

“Ketika Anda mengemudi di jalan tol, Anda akan melewati billboard yang bergambar Obama. Kami mencoba untuk menciptakan pengalaman gaming yang otentik,” tukasnya.

Sejarah Rasial Menghantui Obama, Kulit Hitam AS Pesimistis

Washington – Barack Obama terus mengungguli John McCain dalam berbagai polling AS. Banyak warga AS, khususnya warga kulit hitam, berharap Senator Illinois itu akan memenangi pilpres AS.

Namun banyak pula yang pesimistis. Mereka tak mau berharap terlalu tinggi. Mereka takut kecewa mengingat sejarah rasial di AS.

“Kita punya banyak alasan untuk pesimistis mengingat sejarah kita dan pengalaman di negeri ini,” kata Gil Robertson, pendukung Obama.

“Orang-orang penuh harap, tapi saya katakan: jangan terlalu berharap soal ini karena Anda mungkin kecewa,” tuturnya seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (16/10/2008).

Hal senada diungkapkan Todd Shaw, profesor ilmu politik di Universitas South Carolina. “Ada sinisme dan optimisme di kalangan warga Amerika-Afrika,” kata Shaw.

“Ras masih tetap menjadi situasi berbahaya di politik Amerika,” tegasnya.

Publik AS mengenal apa yang disebut sebagai fenomena “Efek Bradley” yang diambil dari nama Tom Bradley. Seorang politikus AS berkulit hitam yang kalah tipis dalam pemilihan gubernur California tahun 1982. Padahal sebelumnya dia selalu unggul dalam berbagai polling.

Kekalahan Bradley mengagetkan para pengamat AS. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa saat disurvei, para pemilih kulit putih tidak jujur tentang pilihan mereka sebenarnya.

“Sering sekali masyarakat tidak jujur soal ras, preferensi seksual. Mereka cuma mengatakan hal yang benar secara politis,” kata Brenda Girton-Mitchell, wanita berusia 60 tahun pendukung Obama.

“Saya yakin ada sebagian orang yang bilang di depan umum, “Saya bisa memilih orang kulit hitam” tapi kemudian berubah pikiran ketika pergi ke tempat pemungutan suara,” imbuhnya.

Seorang pendukung Obama lainnya, Valerie Freeman, bahkan mengkhawatirkan keselamatan Obama jika dia menang. “Mengerikan jika dia menang. Akan ada orang-orang yang tak bisa menerimanya,” kata wanita berkulit hitam itu.

(ita/nrl)

Obama Jadi Favorit Penggemar Kopi 7-Eleven


Texas – Capres AS dari Partai Demokrat Barack Obama terus mengungguli rivalnya dari Partai Republik, John McCain. Bahkan di kalangan para penggemar kopi pun, Obama merupakan favorit mereka untuk menjadi presiden baru AS. Hah? Penggemar kopi?Ya, para penggemar kopi segar 7-Eleven yang terkenal itu bisa menyuarakan pilihan mereka. Mereka bisa memilih Obama atau McCain. Caranya unik.Pelanggan kopi 7-Eleven tinggal datang ke gerai-gerai 7-Eleven dalam sebulan ini. Kemudian tentukan capres pilihan dengan membeli kopi segar 7-Eleven dan pilih satu di antara dua cangkir kopi 7-election.Tersedia dua macam cangkir dengan warna berbeda. Warna merah untuk John McCain dengan tulisan McCain. Serta warna biru bertuliskan Obama untuk Barack Obama. Jadi sambil menyeruput nikmatnya kopi, pelanggan 7-Eleven bisa memilih capres pilihan mereka.Setiap cangkir kopi yang terjual akan dihitung dan hasilnya dilaporkan tiap minggu di media USA Today. Bahkan di situsnya, www.7-election.com, hasil nasional antara Obama dan McCain bisa dilihat. Begitu pula dengan perolehan suara untuk masing-masing capres di tiap negara bagian AS.Menurut perhitungan 7-Eleven, secara nasional, Obama unggul dua digit atas McCain. Obama meraih 59,68 persen sedangkan McCain 40,32 persen. Hasil ini mirip dengan berbagai polling nasional di AS, yang menunjukkan Obama terus mengungguli rivalnya dari Partai Republik itu.Situs 7-election mengklaim perhitungan mereka sesuai dengan hasil dua pemilihan presiden AS terakhir, yakni pada tahun 2000 dan 2004. Pada tahun 2000, cangkir kopi George W Bush terjual lebih banyak satu persen poin dari cangkir kopi Al Gore.Begitu pula pada pemilihan presiden tahun 2004, cangkir kopi George W Bush lebih banyak terjual daripada cangkir John Kerry. Hasil perhitungan 7-election bahkan persis sama dengan hasil pemilihan nasional: 59 persen suara untuk Bush dan 49 persen suara untuk Kerry.7-Eleven merupakan jaringan toko kelontong (convenience store) 24 jam asal AS. Namun sejak tahun 2005 kepemilikannya dipegang Seven & I Holdings Co., sebuah perusahaan Jepang.Berpusat di Dallas, Texas, 7-Eleven secara global memiliki lebih dari 34.800 gerai di 17 negara.Didirikan pada tahun 1927 di Oak Cliff, Texas, nama “7-Eleven” mulai digunakan pada tahun 1946. Sebelum toko 24 jam pertama dibuka di Austin, Texas pada tahun 1962, 7-Eleven buka dari jam 7 pagi hingga 11 malam, dan karenanya bernama “7-Eleven” (7-Sebelas).Setiap gerai 7-Eleven menjual berbagai jenis produk, umumnya makanan, minuman, dan majalah. Di berbagai negara, tersedia pula layanan seperti pembayaran tagihan serta penjualan makanan khas daerah. Produk khas 7-Eleven adalah Slurpee, sejenis minuman es dan Big Gulp, minuman soft drink berukuran besar.

Iklan Obama Muncul di Video Game

AMERIKA SERIKAT - Persaingan antara Barrack Obama dengan John MaCain dalam memperebutkan kursi Presiden di Amerika Serikat semakin lama semakin panas. Banyak hal yang dilakukan tim pendukung kedua belah pihak dalam mengkampanyekan jagonya itu.

Baru-baru ini beredar sebuah iklan calon Obama yang muncul di sebuah tayangan slide di games bernama Burnout Paradise. Di game yang dikhususkan untuk Xbox 360, Playstation 3, Nintendo Wii, terpampang sebuah ajakan untuk memilih Obama dengan judul slogan “Pilih Obama untuk Presiden”.

Akan tetapi, kehadiran iklan kampanye di jenis games balap mobil ini belum mendapatkan konfirmasi dari pihak pengembang game tersebut, yaitu Electronic Arts (EA). Belum jelas apakah EA benar membuat iklan calon dari Partai Demokrat itu atau tidak.

Terlepas dari itu semua, membuat iklan di game permainan merupakan terobosan yang baru dan unik di dunia politik. Ini jelas menjadi sarana yang efektif dan mengena sasaran. Terbukti dari sebuah survei yang dilakukan oleh Neilsen Games, 11 persen dari gamers memperhatikan dengan serius, iklan yang ditampilkan sebelum permainan itu dimulai.

Tentu saja, selain membeli brand di sepatu dan minuman bersoda, memajang iklan virtual di sebuah game menjadi sarana yang efektif untuk menjaring pemilih pemula untuk mendongkrak popularitas di jajak pendapat, dan tentu menambah suara signifikan di hari pemilihan. Demikian yang diberitakan Times, Minggu (12/10/2008).

Kalau itu betul, maka sudah dapat dipastikan Obama memukul telak McCain, karena dari sisi jajak pendapat, McCain sudah kalah jauh dari mantan senator Illonis tersebut. Terlebih jika nanti Obama dapat menarik dukungan dari para gamers, yang notanebenya adalah pemilih pemula. (jri)

dicopy dari okezone

Obama Janjikan Masa Depan lebih Baik

INDIANAPOLIS - Calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Barack Obama menjanjikan hari-hari yang lebih baik di masa depan meski saat ini krisis mengguncang Wall Street dan pasar global serta pengangguran meningkat.

Optimisme itu diungkapkan Obama, Kamis (9/10/2008) kemarin, sehari setelah debat sengit melawan capres dari Partai Republik John McCain. Obama meminta seluruh rakyat AS tabah dengan krisis yang terjadi, bersamaan dengan hasil jajak pendapat Gallup yang menunjukkan bahwa pria berdarah Kenya itu 11 poin di atas McCain.

“Saya berada saat ini untuk mengatakan kepada Anda bahwa di masa depan ada hari-hari yang lebih baik. Saya tahu banyak dari Anda yang khawatir tentang masa depan. Tapi saat ini bukan waktu untuk takut atau panik. Ini waktu untuk menyelesaikan masalah dan kepemimpinan,” tandas capres AS pertama kulit hitam itu di hadapan 20.000 pendukungnya dari beragam etnis di Indiana.

Saat bursa saham merosot tajam, Obama memperingatkan warga AS agar tidak memberi waktu empat tahun lagi bagi strategi ekonomi Republikan.

Capres Demokrat itu semakin menunjukkan bahwa kebijakan McCain tidak berbeda dengan Presiden AS George W Bush. “Saya dapat menghadapi empat pekan lagi serangan John McCain, tapi rakyat Amerika tidak dapat menghadapi empat tahun lagi kebijakan George Bush John McCain. Kita sudah cukup melihat apa yang ditinggalkan dan kita tidak kembali ke belakang,” ujar Obama di Indiana State Fairgrounds.

Meski tetap memperingatkan bahwa AS menghadapi momen “yang sangat tidak pasti”, Obama berjanji memimpin negara itu keluar dari krisis ekonomi jika terpilih.

“Ini akan menghasilkan kepemimpinan baru di Washington. Ini akan menciptakan perubahan nyata dalam kebijakan dan politik yang kita alami delapan tahun terakhir,” papar pria yang pernah bersekolah di Indonesia itu. (sindo//mbs)